FLP Tegal SelfPublishing Terbitkan Karya SN.Ratmana, Kok Bisa?

Berawal dari kunjungan kami (FLP Tegal) untuk meminta koreksi atas karya-karya yang hendak kami terbitkan. Kemudian beliau memberikan bocoran bahwa sebentar lagi buku beliau akan diterbitkan oleh salah satu penerbit terkenal. Buku itu terdiri dari novelet dan kumpulan cerpen berjudul “Lolong, Lelaki Lansia” Berkisah mengenai sebuah keluarga yang mengungsi akibat agresi militer Belanda I tahun 1947. Kemudian mengangkat sebuah fakta sejarah yang tersembunyi dari sebuah desa di Pekalongan bernama Lolong.

“Kalau Lelaki Lansia maksudnya apa pak?”, tanya salah satu dari kami.

“Itu adalah kumpulan cerpen yang saya tulis sewaktu saya sudah pensiun”, jawab beliau.

“Oo..”, serentak bibir kami membulat.

“Semoga lekas terbit ya, pak”.

***

Beberapa waktu kemudian saat kami bersilaturahim lagi untuk mengantar naskah kumpulan cerpen kami yang sudah diterbitkan berjudul “Akulah Pencuri Itu”, tidak disangka beliau mengejutkan kami dengan berita batalnya buku beliau terbit.

“Hmm, kok bisa seorang sastrawan karyanya ditolak penerbit?”, gumamku.

“Alasannya apa pak, kok ditolak?”, tanya salah satu dari kami.

“Katanya ceritanya kurang menjual. Saat ini bukan trendnya kisah sejarah”, jelas Pak Suci, begitu kami memanggilnya.

Kemudian obrolan berlanjut. Pak Suci menanyakan cara kami bisa menerbitkan kumpulan cerpen “Akulah Pencuri Itu”.

Kami menjelaskan bahwa kami menerbitkan secara indie. Artinya kami harus punya modal sendiri untuk membiayai percetakan. Pasalnya, kumpulan cerpen tidak menjadi prioritas penerbit saat itu, yang lebih diutamakan novel. Kami meminjam uang di bank dulu kemudian angsurannya kami cicil setiap bulan digotong sepuluh orang.

“Biayanya berapa?, tanya Pak Suci.

“Waktu itu tujuh juta untuk 500 eksemplar”, jawab Ali Irfan, Ketua FLP Tegal.

“Oh.. saya mau seperti itu”, tukas beliau. “Saya hanya ingin karya ini terbit, meskipun saya harus mengeluarkan uang”.

Singkat cerita FLP Tegal membantu beliau menerbitkan “Lolong, Lelaki Lansia”. Naskah hardcopy beliau pinjamkan kepada kami. Bisa dikatakan modal nekat, dan niat tulus membantu sang Sastrawan yang kami daulat untuk menjadi Pembina FLP Tegal. Hal ini juga merupakan wujud perjuangan kami sebagai generasi muda yang tidak lagi membawa bambu runcing maupun bedil namun dengan tulisan.

Rapat segera diadakan. Konsep penerbitan pun dicetuskan “Publishing for Charity”, penerbitan untuk amal. Seribu eksemplar dicetak, 500 disumbangkan ke sekolah-sekolah di kota Tegal dan sekitarnya, 500 dijual. Ilustrasi dibuat oleh salah satu anggota FLP Tegal bernama Septi Ade. Redaksi proposal dibuat oleh Ali Irfan, Ketua FLP Tegal. Endorsement dibuat oleh Eri Fitniati, Divisi HRD, desain proposal dibuat oleh Endirah Eka Ningrum, Divisi Support, surat menyurat oleh Yustia Hapsari, dan penyebaran proposal oleh Dwi Puspa, Sutono Adiwerna, Anis Nurani dan Ragil Mustika Sari. Sedangkan penerbitan kami percayakan pada Afifah Afra (Ketua FLP Jateng, sekaligus Direktur  PT. Indiva Media Kreasi). Berhubung Indiva bukanlah penerbit indie, maka diusulkan nama FLP Tegal SelfPublishing sebagai penerbit buku “Lolong, Lelaki Lansia”. Estimasi dana yang dikeluarkan 7,5 juta untuk 1000 eksemplar. Sebisa mungkin pak Suci jangan mengeluarkan uang sepeserpun.

Waktu terus bergulir, penyebaran proposal dilakukan. Namun, penggalangan dana ini kurang maksimal, tidak berjalan mulus, semulus jalan yang baru diaspal. Kami membutuhkan waktu yang lama akibat kesibukan kami masing-masing : bekerja, mengajar, kuliah. Ditambah dengan adanya agenda FLP Tegal yang lain yakni BaKar SaTe (Bahas Karya Sambil Telah) setiap sebulan sekali.  Tiga bulan lamanya proses penggalangan dana dilakukan, namun dana yang diperoleh masih jauh dari yang dibutuhkan. Maka, akhirnya pak Suci pun meminjamkan uangnya sebesar lima juta kepada FLP Tegal, kekurangannya diambil dari dana sponshor dan donatur. Bismillah.. Akhir tahun 2011, buku “Lolong Lelaki Lansia” naik cetak. Awal 2012 buku telah sampai di sekretariat. Adapun sponshor yang turut mensukseskan penerbitan ini antara lain Cosmo GPS, Bank Syariah Mandiri, Percetakan Kejambon, La Tansa Muslim Outlet, dan BMT BUM.

Rapat kembali diadakan untuk membahas launching. Ditetapkan tanggal 12 Februari 2012 sebagai waktu pelaksanaannya karena berdekatan dengan ulang tahun FLP secara nasional yang jatuh pada tanggal 22 Februari dan agar dilakukan sesegera mungkin  sesuai dengan permintaan Pak Suci.

Proses launching pun melibatkan Dinas Pendidikan Kota Tegal untuk menyebarkan surat ke sekolah-sekolah, yang berisi undangan untuk menghadiri launching dan penawaran pembelian buku tersebut. SN. Ratmana pun turun tangan untuk mendatangi sendiri Kepala Dinas Pendidikan Kota Tegal yang kebetulan adalah mantan murid beliau.  Surat Permohonan Audiensi pun dilayangkan agar mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Tegal.

Tanggal 24 Januari 2012, kami mendapat tanggapan dari Pemerintah Kota Tegal yang waktu itu diwakili oleh Wakil Walikota Tegal, H. Habib Ali Zaenal, SE. Dalam audiensi bapak Wakil mengundang perwakilan dari Dinas Pendidikan, Bagian Umum dan DPPKAD. Semua diundang secara bertahap untuk menjelaskan seberapa besar pemerintah kota Tegal bisa membantu launching buku setebal 234 halaman itu.

Secara garis besar pemerintah kota Tegal sangat mendukung terbitnya karya warga Tegal, apalagi sekelas sastrawan. Namun, panitia yakni FLP Tegal harus mempunyai dana talangan dahulu untuk biaya launching karena menurut Peraturan Mendagri yang baru bahwa untuk mendapatkan alokasi dana dari APBD maka lembaga pemohon harus mengajukan satu tahun sebelumnya.

Dengan mengandalkan sisa penggalangan dana penerbitan yang hanya satu juta sekian, kami optimis melangkah. Meskipun dana yang ada tidak akan cukup untuk membayar snack, back drop, akomodasi pembicara dan keperluan lain.

Beberapa teman pun didaulat untuk menjadi pengisi acara seperti Teater Gemblong, Shinta ArDjahrie (FLP Purwokerto) menjadi MC. Pak Suci menginginkan Prof. Abu Su’ud (Mantan Guru Besar UNNES) menjadi pembedah buku beliau. Sedangkan FLP Tegal menunjuk Kurnia Effendi (Cerpenis asal Slawi) untuk menjadi pembedah kedua atas usulan Shinta. Pak Suci menginginkan adanya pembacaan salah satu penggalan cerpen atau novel. Terpilihlah cerpen “Tasini” untuk dipentaskan oleh Teater Gembolng dan Bab IV dari novel untuk dibacakan.

Tulisan-tulisan dan promo penjualan sebelum peluncuran pun digencarkan. Road Show di beberapa radio di kota dan kabupaten Tegal pun dilakukan, yakni : Sebayu FM, RCA FM dan Pertiwi FM.

Detik-detik Launching “Lolong, Lelaki Lansia” pun dimulai. Tampak peserta dari perwakilan sekolah berdatangan di Pendopo “Ki Gedhe Sebayu” Kota Tegal. SN. Ratmana pun datang awal, disusul Prof. Abu Suud dan Kurnia Effendi. Bazar buku pun disiapkan yakni “Lolong, Lelaki Lansia” (FLP Tegal SelfPublishing), “Sediman Senja” (Gramedia), “Akulah Pencuri Itu” (Indie Publishing) dan Who Wants to be A Briliant Writer (Gizone Books).

Satu hal yang dapat kami petik dari rangkain peristiwa penerbitan “Lolong, Lelaki Lansia” ini adalah bahwa ini semua berkat sebuah keinginan kuat SN.Ratmana yang ingin menerbitkan sebuah kisah sejarah demi bekal anak-cucu. Mestakung – “Semesta Mendukung”, begitu kata Prof. Yohanes Surya.

Tahukah Anda? Ada sebuah rahasia di balik ini semua. Keistiqomahan SN.Ratmana dalam menjalankan sholat tahajud. Hal ini terkuak saat obrolan santai menunggu SKPD lain datang, audiensi 24 Januari silam.

Habib Ali berkata,”Tempo lalu pukul tiga dini hari saat saya hendak pergi ke luar kota saya melihat Pak Suci kalau tidak salah, berjalan memakai baju koko, sarung dan kopiah. Akan kemana Bapak?”

“Saya memang sering jalan-jalan dulu setelah sholat tahajud sambil menunggu adzan Subuh berkumandang”, jelas Pak Suci dengan suaranya yang lirih.

Tegal, 19 Februari 2012

Yustia Hapsari, Sekretaris FLP Tegal.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Lolong Lelaki Lansia

Membaca Kepengarangan SN Ratmana

Keterlaluan rasanya jika ada orang Tegal tak mengenal sosok sastrawan Indonesia yang berasal dari daerah sendiri seperti SN Ratmana. Jika tidak kenal dengan orangnya, paling tidak pada karya-karyanya. Sebagai pengarang, ia telah berhasil merekam jejak perjalanannya dalam banyak buku. Sebagai pendidik, ia bisa dibilang sebagai guru yang tidak biasa. Seperti yang sering beliau katakan bahwa seorang guru yang telah memberikan baktinya lebih dari sekedar menjalankan tugas-tugas rutinnya adalah guru  yang mau membaca dan menulis.

Dalam waktu dekat, tepatnya Minggu, 12 Februari SN Ratmana akan melaunching buku terbarunya yang berjudul Lolong Lelaki Lansia yang bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena Tegal, bertempat di Pendopo Ki Gede Sebayu Kota Tegal. Pada kesempatan itu akan hadir Prof. Dr. Abu Su’ud, Kurnia Effendi (Penulis dan Pecinta Sastra) yang akan membedah isi buku.

Yang jelas, ini bukanlah buku pertamanya, Kumpulan cerpennya yang telah diterbitkan sebelumnya antara lain Sungai, Suara dan Luka (Sinar Harapan, 1981). Asap itu Masih Mengepul (Balai Pustaka, 1998), Dua Wajah dan Sebuah Sisipan (Kepel Press,2001). Sedangkan novel beliau telah  menerbitkan Ketika Tembok Runtuh dan Bedil Berbicara (Indonesia Tera 2002), Soetji Menulis di Balik Papan Tulis (Wacana Bangsa, 2005), Sedimen Senja (Kompas, 2006). Novel itu diterbitkan kembali oleh Gramedia pada tahun 2011. Jika dirunut, Lolong Lelaki Lansia ini merupakan buku ketujuh yang ditulis SN Ratmana. Dan itu belum termasuk karya-karya lain yang sudah diterbitkan di media massa seperti Majalah Sastra, Indonesia, Kisah, Horison, Kompas, Suara Merdeka, dan media lainnya.

Sesuai judulnya, buku itu diterbitkan ketika SN Ratmana berusia senja. Ia lahir pada  6 Maret 1936. Berarti sekarang beliau berusia 76 tahun. “Lansia yang produktif!” begitu komentar salah seorang kawan saya yang juga seorang penulis.

Buku ini berisi satu novelet dan 10 potret diri lelaki lansia yang terangkum dalam 10 cerita pendek. Novelet ditulis berdasarkan kisah nyata heroik yang dekat dengan sejarah di tahun-tahun pertama setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada Agresi Militer pada tahun 1949. Kesepuluh cerpen pun berisi kisah nyata. Baik kisah SN Ratmana maupun dari potret pengalaman orang lain yang dinilai penting untuk dituliskan.

Soetjiningrat -nama asli SN Ratmana- seakan tak ingin menyimpan fakta sejarah yang seharusnya diketahui publik. Melalui bukunya yang berjudul Lolong, Lelaki Lansia (2012) SN Ratmana membeberkan kenyataan mengejutkan terkait aspek historis dua simbol sejarah di Pekalongan: Monumen 3 Oktober 1945 di Jalan Pemuda dan Tugu Pencongan.

Beliau ingin mengajarkan kepada kita bahwa sejarah kepahlawanan tidak cukup diabadikan dalam simbol semata. Kalau pun disimbolkan mestilah mempertimbangkan aspek historis yang melatarbelakangi bagaimana sebuah monumen itu berdiri. Pemutarbalikkan sejarah juga menjadi hal yang  tidak etis karena hal itu hanya akan menciderai nilai yang terkandung di dalamnya. Ia sangat yakin, lewat pendokumentasian yang tercatat oleh pelaku sejarah, fakta yang dibelokkan lambat laun akan kembali pada asalnya. Siapa menduga jika SN Ratmana berani meluruskan aspek historis Tugu Indah berbentuk bambu runcing yang dikenal sebagai Monumen 3 Oktober 1945 yang ada di Jl. Pemuda di Pekalongan itu?

Dalam noveletnya Ratmana menawarkan pelurusan sejarah terkait aspek historis monumen itu. Saat itu, tepatnya 3 Oktober 1945, rakyat, termasuk pelajar berkumpul di sebuah lapangan untuk menyaksikan upacara penyerahan kekuasaan dan penyerahan senjata dari Bala Tentara Dai Nippon kepada rakyat  Pekalongan. Tapi yang terjadi, ribuan rakyat, termasuk para pelajar, bukannya menyaksikan penyerahan senjata, melainkan mereka menjadi korban pembantaian. Tentara Jepang keluar dari markas dan memberondong rakyat dengan mitraliur! Sebanyak 37 orang tewas di tempat. Ratusan lainnya luka-luka. Keributan dan kepanikan menyebar ke segenap penjuru kota. Disusul kemudian dengan kemarahan rakyat dan dendam luar biasa kepada Jepang. Mereka yang jadi korban kekejaman Jepang sampai gugur sempat dicatat.  Padahal mereka bukan yang melakukan perlawanan dan mengalahkan Jepang.

Ia seakan mempertanyakan kenapa Tugu Pencongan yang ada di Pekalongan keberadaannya seakan dibiarkan merana, seakan tak terawat, sementara untuk para korban pembantaian tentara Jepang dibuatkan tugu dan monumen yang megah seperti pada Monumen 3 Oktober 1945. SN Ratmana seakan mempertanyakan sikap tidak adil terhadap kenyataan ini.

Melalui novelnya SN Ratmana menuliska bahwa gugurnya para pahlawan di Jembatan Pencongan memang tidak sekolosal dan menggemparkan seperti 3 Oktober di Pekalongan. Meski begitu nilai heroisme para pahlawan yang gugur di sini tidak kalah hebatnya dengan mereka. Di  jembatan itu banyak para pejuang yang dieksekusi dengan penembakkan kemudian jasadnya diceburkan ke dasar sungai. Tugu Pencongan memiliki nilai perjuangan yang jauh lebih  tinggi daripada Monumen 3 Oktober. Hanya saja, kondisinya dibiarkan merana, tak ada prasasti, tak terawat, terlalu lugu, sekedar tumpukan batu bata yang dilepa dan dilabur, dan kotor. SN Ratmana menunjukkan sesuatu yang tidak adil. Ketidakadilan ini pada kenyataan bahwa korban pembantaian tentara Jepang dibuatkan tugu dan monument yang hebat. Tapi belum untuk di Pencongan. Penyebabnya diabaikanya nilai kepahlawanan dibalik berdirinya tugu ini.

SN Ratmana memaparkan sesuatu yang beda dari yang kebanyakan orang tahu mengenai penghargaan tentang nilai kepahlawanan. Yang Ratmana sajikan bahkan sesuatu yang tidak disangka-sangka. Nilai kepahlawanan bukan hanya milik para pejuang, para pejabat, atau bahkan orang berpendidikan, rakyat biasa pun punya kesempatan yang sama.

Dalam cerpen Tasini misalnya, dikisahkan tentang silang pendapat para anggota dewan yang sedang rapat untuk memutuskan nama jalan dari gang sempit yang telah dilebarkan agar bisa dilalui oleh mobil. Masalahnya adalah jalan itu belum memiliki nama. Hingga muncullah beberapa nama yang diusulkan dan diajukan dalam rapat anggota dewan. Seperti biasa dari kalangan birokrat mengusulkan dengan nama walikota pertama, R Soempeno. Nama-nama lain  yang  muncul adalah Brigjen Tarjono, dan… Tasini!  Nama yang terakhir adalah  perempuan yang semasa  hidupnya berkali-kali gila ketika hamil dibulan pertama dan sembuh dengan sendirinya ketika hendak melahirkan. Anak yang dilahirkan adalah tidak lain Brigjen Tarjono.

Masing-masing dari kubu pemerintah dan rakyat biasa menunjukkan jasa dan nilai kepahlawanan yang telah dilakukan semasa hidupnya. Walikota mengusulkan R Soempeno sebagai nama jalan karena nama itu merupakan walikota pertama yang merakyat, seorang pejuang kemerdekaan  yang gigih, serta kejujurannya patut dijadikan teladan, sehingga memiliki kelayakan mengabadikannya sebagai nama jalan. Sementara yang mengusulkan Brigjen Tarjono adalah karena kebesaran hatinya kepada ibunda tercinta. Saat wafat ia menyampaikan wasiat agar ketika meninggalkan dimakamkan di kuburan emaknya di sebuah kampung kecil, padahal karena  perjuangannya ia layak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Berbagai silang pendapat yang muncul, lahirlah sebuah kesepakatan  bahwa Tasinilah sebagai nama jalan tersebut, karena pengorbanannya sebagai perempuan biasa yang melahirkan anak-anak yang memiliki andil besar memajukan daerah, dan juga sebagai tanda bukti dan hormat kepada sosok ibu. Kesepuluh cerpen yang ada dalam buku tersebut disebut-sebut Ratmana sebagai potret dirinya sebagai lelaki lansia. Cerpen-cerpennya sebagian besar mengisahkan pengalamannya selagi muda.

Jarang rasanya ada yang bisa berkisah sekaligus menuliskan serunut dan sedetil SN Ratmana. Ketika saya ingin tahu kelanjutan kisah yang dinilai memiliki suspens saat ia bercerita, buru-buru ia memotong, menahan rasa ingin tahu saya dengan mengisahkan kronologis yang runut sehingga keterkejutan menjadi logis. Buku terbarunya ini seakan menunjukkan kepada kita betapa sejarah itu bernilai.

Kepergian istri yang dicintainya juga digambarkan dalam beberapa cerpen seperti Duh, Seikat cerpen mini (2)!, Orong-orong. Cerpen-cerpen yang lain juga  tak  kalah  menarik untuk  disimak, Asap, Beliau, Lelaki dalam Tiga Peristiwa, Intuisi, Pipiiiiis!!, Malaikat-malaikat itu, dan Bah!

 

Pembukaan karya-karya SN Ratmana memiliki daya tarik yang memikat sehingga pembaca memiliki rasa ingin tahu yang lebih persoalan apa yang ingin disajikan penulis. Kapasitasnya sebagai saksi sekaligus pelaku sejarah, ia tidak terjebak pada sebatas pencerita.

Sulaiman dan Sunu Wasono menyebut cerpen-cerpen SN Ratmana sebagai cerpen-cerpen realis, Karya semacam itu memperlihatkan kesan seolah-oleh objek (realita) itu tampil sebagaimana adanya.  Hal  itu ditandai pada subjek  pencerita pada posisi sebagai pelapor kenyataan. Dengan begitu subjek  pencerita berdiri pada posisi yang jauh dari yang diceritakannya. Kalaupun menjadi tokoh dalam cerita itu, ia mampu mengendalikan emosinya untuk tidak mengintervensi persoalan yang bergulir di antara tokoh lain. Itulah menariknya SN Ratmana!

Ali Irfan, - Ketua Forum Lingkar Pena Tegal

Dimuat di Radar Tegal, 9 Februari 2012

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Lolong Lelaki Lansia

LOLONG : Sebuah Rekam Jejak Sejarah di Satu Sudut Pantura

 

Agresi militer Belanda 1 tahun 1947 menyisakan banyak kisah yang terekam dalam pada setiap jengkal bumi pertiwi. Dari segala kisah yang ada diharapkan dapat menjadi pelajaran bahwa penjajahan itu hanya memberikan kesengsaraan.

LOLONG memang bukan sebuah kisah tokoh pahlawan terkenal atau yang tercatat dalam daftar pahlawan nasional. Ini adalah kisah sederhana mengenai keluarga seorang gerilyawan. Kisah tentang perjuangan sebuah keluarga yang menjalani masa-masa sulit, yang melakukan perjalanan dari Wonosobo hingga Pekalongan. Rekam jejak yang cukup menyentuh dan menyadarkan kita akan makna “pahlawan” yang sebenarnya.

LOLONG adalah sebuah Novelet yang terangkum dalam buku : “Lolong, Lelaki Lansia”, karya terbaru dari SN Ratmana. Berisi satu novelet dan sepuluh cerpen terpilih. SN Ratmana adalah novelis dan cerpenis senior yang karya-karyanya sudah beberapa kali diterbitkan. Dalam khazanah kesussastraan Indonesia, SN Ratmana digolongkan sebagai sastrawan angkatan 66. Pada tahun 1975, nama SN Ratmana mulai dikenal masyarakat luas karena cerpennya yang berjudul “Kerisik Daun-Daun Mangga” berhasil memenangi Sayembara Kincir Emas yang diadakan Radio Nederland. Karya-karya yang sudah diterbitkan antara lain : dari Jodoh sampai Supiah (Kumpulan cerpen, Jakarta : Djambatan, 1975) ; Sungai, Suara, dan Luka (Kumpulan cerpen, Jakarta : Sinar Harapan, 1981) ; Asap itu Masih Mengepul (Kumpulan Cerpen , Jakarta : Balai Pustaka, 1997); Ketika Tembok Runtuh dan Bedil Berbicara (1966-1998), Novel, Jakarta : Indonesia Tera, 2002 ; Sedimen Senja (Novel, jakarta : Kompas, 2006).

Kini SN Ratmana kembali menghadirkan karya terbarunya : “Lolong, Lelaki Lansia”, sebuah novelet dan sepuluh cerpen pilihan. Launching akan diselenggarakan pada tanggal 12 Februari 2012 di pendopo Sebayu Tegal dengan dihadiri oleh Prof.Abu Su’ud dan cerpenis Kurnia Effendi.  Penerbit membuka layanan pre-order hingga tanggal 10 Februari 2012. Pemesanan pada pre-order akan mendapatkan diskon 30% + tandatangan penulis. Info pemesanan, harga, serta ongkos kirim bisa langsung hubungi nomor kontak : 0856 856 5875 atau via email di penategal@yahoo.com . Persediaan terbatas. (Shinta ArDjahrie)

Informasi buku
Judul buku : Lolong, Lelaki Lansia
Penulis : SN Ratmana
Penyunting bahasa : Mastris Radyamas
ISBN : 978-602-8277-55-6
Penerbit : flpTegal self publishing
Jumlah halaman : 239
Harga : Rp 40.000,-

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Lolong Lelaki Lansia

Special Moment di Penghujung Tahun 2011

Jam 2 siang seperti hari sabtu biasanya, saya sudah stanby di Rumah baca Asma Nadia Tegal, bercengkrama dengan anak- anak yang berkunjung ke rumah baca yang terletak di belakang Rumah Dinas Bupati Tegal ini. Mungkin karena cuaca mendung, RBA yang biasanya ruah anak- anak, kini hanya sekitar 12 anak yang datang. Dengan spesipikasi umur 5 sd 13 thn. Baru beberapa menit saya duduk, air jatuh dari langit. Pengalaman yang sudah- sudah, kalau hujan turun sementara tidak ada kegiatan lain selain memilih dan meminjam buku, anak- anak yang aktif akan teriak- teriak, lari- lari dan sebagainya. Mengantisipasi itu, saya atas permintaan seorang anak membuat game dari gambar sederhana yang bisa melibatkan banyak anak. Itupun saya agak kesusahan memberi soal karena jenjang usia,dan kelas amat beragam. Ada Sultan, Sakinah yang masih kelas 2 sd, ada juga Revina yang sudah kelas 1 smp. Sementara Via dan Oval yang masih 5 thn mengacak- acak puzle dan dakon. Untungnya beberapa waktu kemudian, ketua RBA Tegal datang. Sehingga, anak- anak yang tidak ikut game menghambur ke Eka.

Jam setengah 4 sore, hujan agak mereda. Kalau biasanya anak- anak bertahan hingga menjelang RBA ditutup, seolah tahu kalau setengah jam ke depan ruangan RBA akan ada pertemuan rutin Flp Tegal  dengan mas Ali Muakhir yang kebetulan sedang ada di tanah kelahirannya, kota Poci.

Langit masih hitam, pekat. Hujan yang baru saja mereda, menderas kembali. Tiba- tiba sms dari mas Ali Muakhir masuk. Isinya ” mas, jadi acaranya? ” saya berpikir sebentar, bingung bagaimana harus membalas sms tsb. Sepengetahuan saya, yang konfirmasi kehadiran banyak, tetapi karena cuaca gelap, 15 menit menjelang acara baru ada saya dan Eka. Akhirnya saya jawab sms beliau ” Insyaallah jadi, mudah- mudahan jam 4 hujan reda.” saya sedikit lega setelah menjawab demikian, begitu menurut Yustia, ada temen- temen dari Flp Pemalang yang akan datang dan sudah berada di Banjaran, Adiwerna.

Tepat jam setengah 5, teman- teman Flp Tegal datang, disusul kehadiran mas Ali Muakhir yang dikuntiti anak- anaknya, minus Nada. Tanpa banyak kata, acara curhat kepenulisan dengan Mas Ali pun dimulai. Banyak ilmu yang saya dapat di sore menjelang pergantian tahun. Diantaranya sebagai berikut

Endorsmen artinya, kalimat singkat yang mengomentari isi, manfaat dan apreasi buku.

Endorsmen sebenarnya, di cari ketika naskah sudah jadi dan siap terbit.

Cara pengiriman buku anak ke penerbit, yang berupa kumpulan cerpen adalah: 12 judul, maksimal 6 halaman dengan 1,5 spasi dan kertas hvs.

Seyognya, sebelum menulis buku lebih dahulu mencoba menaklukan rimba media masa karena akan melatih calon penulis menjadi, sabar, produktif dan bisa membuat deadline sendiri.

Trik menerbitkan buku, tema jelas, punya nama ( efek sering terbit di media mungkin ), bikin serial. dan prosedur pengiriman naskah, untuk soft copy gunakan PDF. Naskah dibuat secantik mungkin kalau dikirim secara manual.

Menjelang Adzan maghrib, acara ditutup. Terimakasih buat mas Ali Muakhir yang bersedia datang dan berbagi ilmu, teman- teman Flp dan RBA Tegal. Mengutip kata GK Chestern, ” obyek peringatan tahun baru, bukanlah soal kita akan memasuki tahun baru, tetapi bagaimana kiti memiliki semangat baru. SEMOGA. (Sutono Suto)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Press Rilis Kegiatan FLP Tegal

Pelatihan Cerpen dan Kartun with FLP Tegal

Dalam rangka mengisi libur Ramadhan maka  Yayasan Lentera Hati bekerja sama dengan beberapa LSM lain termasuk FLP Tegal mengadakan Pesantren Kilat.

FLP Tegal mendapat giliran mengisi acara pada :

Hari/Tanggal : Kamis, 25 Agustus 2011

Waktu                : 09.00 – selesai

Tempat             : Masjid Agung Slawi

Peserta              : Pelajar dan Umum

Yang akan mengisi sessi Menulis Cerpen adalah Ali Irfan (Ketua FLP), dan materi Menggambar Kartun oleh Septi Ade (salah satu Ilustrator buku Antologi “Akulah Pencuri Itu”)

Bagi anggota FLP dan teman-teman pecinta literasi diperbolehkan hadir.^_^

(Yustia)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Info Kegiatan FLP Tegal

LEZATNYA “BAKAR SATE #2” FLP TEGAL

Tegal – Forum Lingkar Pena Tegal kembali mengadakan BAKAR SATE #2, Minggu (14/8). Bakar Sate yang dimaksud di sini adalah Bahas Karya Sambil Telaah. Acara yang dihadiri oleh 18 orang  ini berlangsung di rumah Ketua FLP Tegal.

“BAKAR SATE” merupakan salah satu program FLP Tegal untuk membuat anggota terlecut membuat sebuah tulisan yang berkualitas. Materi mengenai unsur-unsur instrinsik dan ekstrinsik dalam sebuah tulisan akan mereka dapatkan secara tidak langsung melalui karya yang dibedah.

Teknisnya adalah pengurus FLP Tegal menginstruksikan para anggota untuk membuat tulisan dari bulan Mei hingga akhir Juli. Tema yang diusung mengenai “Kedasyatan Doa”. Ide tulisan merupakan  kisah nyata si Penulis ataupun orang lain.

Berikut laporan hasil BAKAR SATE yang seru dan benar-benar membuat panas para penulis yang dibedah karyanya. Penulis membagikan fotocopy tulisan mereka kepada pengurus dan anggota yang lain, kemudian penulis mempresentasikan secara singkat mengenai isi cerita dan alasan mengangkat tulisan tersebut. Setelah forum membaca tulisan kemudian satu persatu pengurus dan anggota mulai membedah. Rata-rata kritikan mereka pedas dan kadang membuat penulis mati kutu. Bukan bermaksud menyakiti namun hal ini dimaksudkan agar penulis benar-benar tahu kelebihan dan kekurangan tulisannya. Ada yang mengkritik  tentang penulisan tanda baca dan kata sambung yang tidak sesuai dengan EYD  (Ejaan Yang Disempurnakan). Ada juga yang membahas mengenai  deskripsi yang kurang akurat dan pemilihan kata (diksi) yang kurang tepat. Sedangkan yang lain ada yang mengomentari tentang pemilihan tema cerita yang kurang tepat, kemudian mengusulkan tema yang lain untuk diangkat, ada juga yang mengkritik judul yang biasa-biasa saja. Sedangkan yang lain mengusulkan sebuah judul yang tepat. Total ada 8 naskah yang dibedah dari 10.00 – 15.00 WIB. Antara lain : “Manusia, Rasa Kehilangan dan Harapan” karya Adelard Illhamsyah, “Aku Datang Penuhi Panggilan-Mu” karya Putri Adila, “Allah Tak mengabulkan Doaku” karya N-Dhyra, “Aku Terkejut dan Tak Percaya” karya Khaerul Anam, “Titik Balik” karya Rafihan Anwar, “Bismillah, “Aku Ikut Istikharahku” karya Jaki Umam, “Jejak Kaki Bocah Kecil” karya Irfan Fauzi dan “Perjalanan Panjang Ibuku” karya Rahayu Sekarningrum.

Acara bertambah khitmad karena ada taushiyah dari Ustadz Ghusni Darodjatun, MP.d di tengah-tengah acara yang mengupas  Kedasyatan Doa. Ada harapan yang besar pada doa. Hanya orang-orang yang penuh harapanlah yang memanjatkan doa. Jika mereka sudah tidak punya harapan maka bisa jadi tali tambanglah yang akan mereka pilih untuk mengakhiri hidup. Maka berdoalah sesungguhnya Allah sangatlah dekat. Adapun syarat-syarat diterimanya doa adalah berhusnudzon atau berprasangka baik pada Allah, dilakukan berulang-ulang, dilakukan dengan kerendahan hati, di tempat dan waktu yang mustajab.

Setiap orang pasti mempunyai pengalaman spiritual saat berdoa dan memperoleh mukjizat atau jawaban yang tak terduga atas kegigihan berdoa dan tentunya diiringi dengan kesungguhan dalam berikhtiar. Kami ingin melatih anggota untuk menulis kisah nyata entah yang dialami sendiri atau kisah dari orang lain. Sekaligus membagikan kepada pembaca secara luas karena Insyaallah tulisan-tulisan yang lolos seleksi dan layak akan dibukukan”, ujar Ali Irfan, Ketua FLP Tegal saat ditanya mengenai alasan mengambil tema tersebut.(Yustia)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Press Rilis Kegiatan FLP Tegal, Rilis BAKAR SATE

BAKAR SATE #2 “KEDASYATAN DOA”

Pengumuman

Bahas Karya Sambil Telaah berikutnya siap dilaksanakan…!

Para anggota FLP Tegal dimohon mempersiapkan diri, mental dan pikirannya di acara tersebut. Jangan lupa untuk membawa tiga rangkap hardcopy karya yang sudah dikirimkan ke email flptegal@yahoo.co.id. Kurang lebih ada 13 naskah yang masuk. Terima kasih sudah turut berpartisipasi..^_^

Check It Out…

Hari/Tanggal : Ahad, 14 Agustus 2011

Waktu               : Pukul 10.00 – 15.00 WIB

Tempat             : Jln. Kendari Gang 2 No.45, RT.4 / RW.III, Kel Tunon, Kec. Tegal Selatan, kota Tegal

BAKAR SATE kali ini begitu spesial. Pertama, karena jatuh pada bulan Ramadhan,bulan yang penuh berkah. Kedua, akan ada Taushiyah dari Pembina FLP Tegal yakni Bapak Ghusni Darodjatun, MPd. Diharapkan ruhiyah kita semakin meningkat, kedekatan kepada Allah SWT semakin memuncak imbasnya adalah hasil tulisan kita yang penuh makna dan MENCERAHKAN.

BAKAR SATE berlangsung dengan damai dan penuh ketawadhu’an walaupun panas saat karyanya dibedah, he he :-D Tapi setelah itu, karyanya benar-benar matang dan siap untuk disajikan kepada khalayak luas (layak dibukukan).

Oya, untuk FLPers yang tidak mengirimkan / belum mengirimkan karya karena belum dapat ide atau bingung bagaimana menuliskannya, don’t worry be happy he he,kami PERSILAKAN HADIR. Yuk, kita simak bersama BAKAR SATE #2 ini sebagai bahan pembelajaran kita semua. ^_^

Oke.. kami tunggu kabar dari FLPers semua. Plis..beri konfirmasi kehadiran ke no. ini ya 085724162114.

Berikut denah lokasi :

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Info BAKAR SATE, Info Kegiatan FLP Tegal

Reportase BAKAR SATE #1

This slideshow requires JavaScript.

Tegal – FLP Tegal kembali mengadakan kegiatan yakni BAKAR SATE (Bahas Karya Sambil Telaah), Minggu(24/07). Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap kali ada tugas menulis yang diberikan oleh pengurus. Tulisan yang dikirimkan oleh anggota pada tahun 2011 kali ini bertema “Kedasyatan Doa”. Ada tujuh naskah yang masuk, namun baru tiga nakah yang dibahas dan telaah.  “Setiap orang pasti mempunyai pengalaman spiritual saat berdoa dan memperoleh mukjizat atau jawaban yang tak terduga atas kegigihan berdoa dan tentunya diiringi dengan kesungguhan dalam berikhtiar. Kami ingin melatih anggota untuk menulis kisah nyata entah yang dialami sendiri atau kisah dari orang lain. Sekaligus membagikan kepada pembaca secara luas karena Insyaallah tulisan-tulisan yang lolos seleksi dan layak akan dibukukan”, ujar Ali Irfan, Ketua FLP Tegal saat ditanya mengenai alasan mengambil tema tersebut.

Berikut laporan hasil BAKAR SATE yang seru dan benar-benar membuat panas para penulis yang dibedah karyanya. Penulis membagikan fotocopy tulisan mereka kepada pengurus dan anggota yang lain, kemudian penulis mempresentasikan secara singkat mengenai isi cerita dan alasan mengangkat tulisan tersebut. Setelah forum membaca tulisan kemudian satu persatu pengurus dan anggota mulai membedah. Rata-rata kritikan mereka pedas dan kadang membuat penulis mati kutu. Bukan bermaksud menyakiti namun hal ini dimaksudkan agar penulis benar-benar tahu kelebihan dan kekurangan tulisannya. Ada yang mengkritik  tentang penulisan tanda baca dan kata sambung yang tidak sesuai dengan EYD  (Ejaan Yang Disempurnakan). Ada juga yang membahas mengenai  deskripsi yang kurang akurat dan pemilihan kata (diksi) yang kurang tepat. Sedangkan yang lain ada yang mengomentari tentang pemilihan tema cerita yang kurang tepat, kemudian mengusulkan tema yang lain untuk diangkat.

Tulisan yang pertama dibedah berjudul Sekuntum Do’a di Taman Tahajud karya Irfan Fauzi. Tulisan ini berisi tentang seorang pemuda yang dipilih teman ayahnya untuk dijadikan menantu, padahal dia mempunyai kakak laki-laki yang belum menikah. Ada konflik batin antara perasaan bahagia karena dia memang cinta dengan putri bapak itu dan perasaan tidak enak dengan sang Kakak. Menurut Sutono, salah satu pengurus FLP tulisan Fauzi,”Membaca tulisan Irfan Fauzi seperti membaca cerpen, karena memakai bahasa kiasan. Untuk kedasyatan do’anya kurang dikupas dalam tulisan ini. Usaha tokoh kurang ditimbulkan. Endingnya terkesan menggantung. Ending seperti ini cocoknya untuk ending cerpen.”

Kemudian Ali Irfan menambahkan,”Kesalahan EYD merupakan hal kecil yang tidak bisa ditolerir. Isi tulisan yang bagus akan menjadi terlihat kacangan saat penulis kurang memperhatikan penggunaan EYD yang tepat. Media cetak dan penerbit pun sangat memperhatikan EYD. Kemudian mengenai bahasa non fiksi adalah bahasa keseharian yang ringan dan sederhana, bahasa keseharian.”

Sedangkan menurut anggota baru yang sedang berikhtiar menerbitkan Novel Pentalogi, Jaki Umam, “Kisahnya mirip seperti kisah hidup saya. Ada kata-kata yang terlalu hiperbola untuk ukuran kisah nyata. Kalimat langsung sebaiknya dibuat paragraph sendiri atau masuk alinea baru. Pelajaran moralnya kurang dipertegas.

Tulisan kedua yang dibedah berjudul Aris Do’a Sang Perantau karya Aris Winarni. Penulis mempresentasikan bahwa dalam kehidupan ini semuanya adalah proses. Agar terkabulnya doa harus melewati beberapa fase. Awin (tokoh utama) lulus SMA hijrah dan dapat  hidayah. Saat hidayah itu datang tugas utamanya adalah istiqomah di jalanNya. Merantau ke Pelosok yakni Riau. Mendapat hidayah di Batam, niat yang kuat, serta kesungguhan dalam berikhtiar maka akan menghasilkan keistiqomahan.

Berikut komentar dari Dwi Puspa, pengurus FLP Tegal,”Saya tidak membaca sampai habis kerana panjang sekali. Karena ini kisah nyata maka pakai kata Aku saja, atau kata ganti orang pertama. Setelah mendengar sedikit presentasi dari Mba Aris menurut saya ceritanya memang benar kisah merantau, cuma karena terlalu panjangnya akhirnya menjadi tidak fokus. Mungkin bisa diambil satu saja, misalnya saat di bekerja di Batam atau saat kuliah saja. Alur lebih ditajamkan agar tidak seperti novel.

Sedangkan komentar Ade, anggota FLP Tegal, “Saya banyak menemukan kalimat-kalimat baku dalam menuliskan narasinya, namun setelah membaca halaman setelahnya saya lebih banyak menemukan kata-kata yang seharusnya menjadi dialog cerita dalam sebuah narasi, alias banyak kata-kata yang tidak baku.”

Jaki Umam berkomentar,”Saya mengomentari dari segi kontranegatifnya. Sebenarnya naskah ini berpotensi menjadi Dwilogi, karakter dapat, setting kena, namun alur mesti dikembangkan.  Sudut pandang orang pertama pakai kata Aku. Sebaiknya tidak menggunakan kata-kata yang menggurui karena sudah menjadi naluri manusia tidak mau digurui.

Tulisan ketiga karya Rahayu Sekarningrum berjudul Perjalanan Panjang Ibuku. Tulisan ini menceritakan tentang perjalanan hidup ibu si Penulis. Berawal dari kehidupan mereka di Aceh. Kemudian terpaksa pindah ke Jawa karena ada huru-hara GAM dengan TNI. Setelah sampai di Pacitan, tanah kelahiran kedua orang tua Penulis, mereka hidup kekurangan. Klimaksnya saat gaji ayah selama dua bulan belum dibayar, sang Ibu memohon dan menangis saat tahajud karena kebutuhan makan anak mendesak, ditambah adik Penulis sedang sakit. Keesokan harinya langsung mendapat uang.

Komentar Ali Irfan, “Ceritanya keren,tapi sayang prolognya kurang pas.” Dwi Puspa menambahkan,”Ceritanya bagus. Mengingatkan saya saat di Papua dulu. Ketakutan saat ada OPM, waktu pertama kali pindah. Prolognya tidak pas dengan ceritanya.  Kurang ada dialognya.

Acara ditutup dengan hamdalah dan rencana BAKAR SATE yang berikutnya.

By : Yustia

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Press Rilis Kegiatan FLP Tegal, Rilis BAKAR SATE

BAKAR SATE #1 “KEDASYATAN DO’A”

BAHAS KARYA SAMBIL TELAAH #1 siap dimulai…..

Setelah pengumumam via sms agar seluruh anggota FLP Tegal membuat Kisah Nyata dengan tema “Kedasyatan Do’a”.

Dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Kisah nyata yang dialami oleh diri sendiri atau orang lain.
  2. Terdiri dari 5-8 halaman folio
  3. spasi 1,5 ; margin 4,4,3,3 ; TNR 12pt
  4. dikirim paling lambar 31 Juli 2011 ke flptegal@yahoo.co.id atau flptegal@yahoo.groups.com

Nah, berikutnya walaupun belum memasuki deadline, pengurus memutuskan untuk segera melaksanakan BAKAR SATE terlebih dahulu, sebagai sarana pembelajaran dan sumber ide bagi anggota yang belum mendapatkan ide apa yang akan ditulis.

BAKAR SATE kali ini Insyaallah akan diadakan pada :

Hari/tanggal : Ahad, 24 Juli 2011

Waktu               : 09.00 – 12.00 WIB

Tempat            : Jln. Kendari Gang 2 No.45, RT.4 / RW.III, Kel Tunon, Kec. Tegal Selatan, kota Tegal

Berikut denah lokasi :

Penjelasan denah :

Dari arah Slawi : Dari gerbang masuk kota Tegal, lurus terus. kurang lebih seratus meter. Nanti sebelah kiri jalan, ada makam,Jl. Nyi Ageng Serang,lurus terus lewat pasar (ada perempatan), lurus lagi, akan ada perempatan. Di sebelahnya ada kelurahan Tunon. Belok kanan. Kurang lebih 50 meter, ada gang masuk pertama. (patokan warnet) masuk, itu Jl. Kendari. cari gang nomor dua sebelah kanan jalan. Rumahnya rumah pertama dekat kebun pisang.

by: Yustia

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Info BAKAR SATE, Info Kegiatan FLP Tegal

Rilis TALK SHOW “TEGAL CERDAS, TEGAL MENULIS”

This slideshow requires JavaScript.

By: Puput Happy

Minggu pagi, tanggal 8 Mei 2011 di Gedung Kesenian Kota Tegal, di Jl. Setia Budi- Tegal telah diselenggarakan Talk Show Kepenulisan dengan tema “Tegal Cerdas, Tegal Menulis” oleh Forum Lingkar Pena Tegal. Satu acara yang benar-benar memukau menurut saya, karena acara tersebut sangat menggugah gairah orang-orang Tegal untuk giat menulis. Mencerahkan Tegal dengan menulis! Begitu kira-kira tujuan digelarnya acara tersebut. Apalagi di awal acara sempat dibuat yel-yel oleh salah satu anggota FLP dengan slogan: “Penulis Tegal, kereeennn….!!” ^_^

Ada tiga pembicara yang dihadirkan di sana, yaitu Afifah Afra, S. Si (Penulis Novel “De Winst”, Ketua FLP Jateng), Wijanarto (Budayawan Tegal), dan Tedi Kartino, S. P (Succes Potensi Navigator), sementara ada sekitar 200 peserta yang ikut meramaikan acara tersebut. Suasana talk show begitu hidup dan penuh dengan energi positif. Itu semua karena para pembicara yang begitu piawai membawakan acara dan didukung oleh panitia penyelenggara yang tertata rapi.

Generasi kita saat ini menurut Taufik Ismail: “Buta membaca, lumpuh menulis”, artinya generasi kita tidak bisa menulis karena enggan untuk membaca. Padahal menulis dan membaca ibarat saudara kembar, begitu kata Afifah Afra.

Ada banyak alasan mengapa seseorang menulis. Namun, kata Afifah, carilah alasan-alasan yang membuat Anda ingin menjadi penulis. Alasan-alasan tersebut harus kuat dan mendasar. Jika suatu saat Anda tengah badmood, mengalami stagnasi, depresi, atau perasaan-perasaan sejenis, Anda boleh pandangi kalimat-kalimat tersebut dan bayangkan betapa berbahagianya jika Anda bisa mewujudkan apa-apa yang Anda inginkan tersebut!

Menulis itu proses mengikat ilmu. Menulis itu bisa membuat kita lebih sistematis. Akan banyak manfaat dari tulisan-tulisan yang kita buat, bahkan cara mengenali emosi kita adalah lewat tulisan-tulisan kita. Menulis juga bisa bikin kita awet muda, karena menulis dapat mengurangi kerutan-kerutan pada kulit.

“FLP! FLP! FLP! Menulis! Menulis! Menulis! Bisa!!”

Kalimat pembuka yang diteriakkan oleh Bapak Wijanarto tersebut sangat menggelegar hingga seisi ruangan gemuruh ikut meneriakkannya. Beliau mensupport peserta untuk tidak malu-malu menulis tentang Tegal sebagai daerahnya sendiri, seperti Lanang Setiawan yang selalu membuat tulisan tentang Tegal. Kata Beliau, menulis itu seperti mesin fotocopy yang mengaktualisasikan pengalamannya melalui tulisan. Seorang penulis itu hidup karena pengalamannya dan dari hasil dia membaca. Beliau memotivasi kita dengan menjadikan Tegal sebagai sumber inspirasi. Aktualisasikan dengan menulis!  Sebab seorang penulis punya ikatan dengan fisiknya, dengan lingkungannya, dan dengan budayanya. Menulis itu tidak hanya berimajinasi, tapi tahu data konkrit.

Di akhir acara, Bapak Tedi Kartino membakar semangat menulis kepada seluruh peserta dengan ajakan “Jadi penulis sekarang juga!” Yuk, pembaca! Budayakan menulis sekarang juga! ^_^

***

http://futicha.blogspot.com/2011/05/talk-show-tegal-cerdas-tegal-menulis.html

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Rilis Talk Show