APAS KHAFASI : “Jadilah Manusia 0”
By: Kelopakbiru
Pernah seorang laki-laki berambut gondrong, dengan penampilan sangat sederhana datang ke rumah saya. Dia membawa teman sepermainannya di theater. “Ingin ngobrol-ngobrol soal seni dan sastra,” katanya. Lalu saya persilakan saja mereka berbicara dari “utara sampai selatan” soal seni dan sastra. Bercerita tentang kisah hidupnya dalam dunia seni. Sejak ia belum bisa apa-apa, hingga dia bisa mengantarkan anak didiknya meraih berbagai penghargaan tingkat nasional. Mendengar obrolan mereka, saya jadi terinspirasi menulis. Betapa mereka itu orang-orang yang nekad, berkemauan kuat, dan punya kepedulian yang tinggi. Rela mengamen dan mementaskan seni jalanan dari Tegal sampai Jawa barat demi mengunjungi pertemuan para seniman di salah satu kota di Jabar. Bahkan ketika sampai di tempat tujuan mereka hanya ditolak (karena penampilan mereka kucel), dan undangan yang mereka tunjukkan tidak mengubah pendirian panitia acara, mereka hanya pasrah. Tidak kalah sabarnya dengan AA Gym saat dilanda badai poligami. Ya, itulah Apas Khafasi. Guru theater SMA Negeri 3 Tegal. Seniman lokal Tegal. Teman seperjuangan Apito Lahire.
Spontan saya meminta izin untuk menulis profil Apas. Spontan pula beliau menolak. “Emoh terkenal,” katanya. Tapi saya tetap memaksa, dengan alasan belum tentu dimuat. Dari sekian banyak sisi positif yang bisa saya ambil dari beliau, ada satu kesimpulan yang telah mengubah paradigma saya. Bahwa mereka pun, para seniman yang kelihatannya kucel, acuh tak acuh, dan aneh ternyata sama pula seperti kita – manusia yang mengaku aktivis dakwah – punya kepedulian terhadap sesama. Ia sangat peduli dengan para pelajar yang kurang mendapatkan jalur ekspresi diri. Ia sangat peduli dengan dunia teater di Tegal yang masih sangat kurang terapresiasi. Benar apa kata Sherina, Lihat segalanya lebih dekat, maka kau akan melihat dengan lebih bijaksana.
Umumnya, orang rela bersusah payah untuk mendapatkan penghargaan (piala atau piagam) atas sebuah prestasi. Setelah mendapatkannya, tentu tidak sembarangan penghargaan itu diletakkan. Paling tidak disimpan di dalam lemari agar awet. Bahkan ada yang memperlakukannya dengan cara khusus agar piala tersebut bisa bertahan lama, dan terus dikenang hingga tujuh turunan.
Berbeda dengan orang pada umumnya, Apas Khafasi – seniman lokal Tegal – sengaja membuang atau memberikan piala-piala yang pernah didapatkannya kepada orang lain. Alasannya sih ringan saja. Dia hanya ingin menjadi manusia nol. Dengan menjadi manusia nol, ia merasa bukan siapa-siapa, belum bisa apa-apa dan tidak memiliki kemampuan apapun. Dengan demikian ia akan terus-menerus belajar untuk menambah ilmu dan mengasah kemampuan seninya. Sebaliknya, ketika ada satu piala saja di rumahnya, ia akan merasa pernah memenangkan sesuatu, dan hal itu bisa membuatnya enggan menambah kualitas diri.
Wah! Perlu ditiru juga ya. Kalau Apas Khafasi saja – yg tidak menggunakan landasan dakwah – bisa begitu maju, kenapa kita menghasilkan satu novel saja tidak bisa???
Semangat!!! Cayo untuk teman-teman FLP Tegal dan Semarang.
begitulah dia, yang memiliki keunikan tersendiri. bisa jadi popularitas baginya tidaklah begitu penting.Yang penting adalah semangat berkarya dan berbuat.
Piagam, piala, mungkin hanya diartikan sebagai simbol. dan bukan sebagai kebanggaan.walau sebenarnya diantara kitamasih banyak yang menjadikan simbol itu sebagai kebanggaan lantaran menjadi saksi sejarah perjalanan.
****
nb: sekian lama saya ingin tahu keberadaan FLP Tegal. Saya sudah beberapakali menghubungi pihak terkait seperti Muhammad Yulius (Majalah Annida) yang menghubungkan saya dengan Rahmadiyanti. Setelah saya hubungi via sms tapi tak kunjung mendapat balasan. Via fb juga saya sudah minta keberadaan flp tegal sama mbak Afifah Afra.Alhamdulilah tak digubris juga. hingga akhirnya saya menemukan blog ini.
hemat kata,saya perlu wadah untuk menuangkan ekspresikepenulisan saya. mohon kalau ada agenda2 seputar kepenulisan flp saya dikabari di 081395698786.
“Alasannya sih ringan saja. Dia hanya ingin menjadi manusia nol. Dengan menjadi manusia nol, ia merasa bukan siapa-siapa, belum bisa apa-apa dan tidak memiliki kemampuan apapun. Dengan demikian ia akan terus-menerus belajar untuk menambah ilmu dan mengasah kemampuan seninya.”
Kalo saya adalah manusia spesial …
Saya merasa begitu spesial dan pasti memiliki hal yang menakjubkan pada diri saya … Saya punya alasan untuk hidup dan berjuang …
He..he.. betul juga ya Pe’. Maksud saya yang perlu ditiru itu terus menerus belajarnya itu loh. Alias haus ilmu.