This slideshow requires JavaScript.
Tegal – FLP Tegal kembali mengadakan kegiatan yakni BAKAR SATE (Bahas Karya Sambil Telaah), Minggu(24/07). Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap kali ada tugas menulis yang diberikan oleh pengurus. Tulisan yang dikirimkan oleh anggota pada tahun 2011 kali ini bertema “Kedasyatan Doa”. Ada tujuh naskah yang masuk, namun baru tiga nakah yang dibahas dan telaah. “Setiap orang pasti mempunyai pengalaman spiritual saat berdoa dan memperoleh mukjizat atau jawaban yang tak terduga atas kegigihan berdoa dan tentunya diiringi dengan kesungguhan dalam berikhtiar. Kami ingin melatih anggota untuk menulis kisah nyata entah yang dialami sendiri atau kisah dari orang lain. Sekaligus membagikan kepada pembaca secara luas karena Insyaallah tulisan-tulisan yang lolos seleksi dan layak akan dibukukan”, ujar Ali Irfan, Ketua FLP Tegal saat ditanya mengenai alasan mengambil tema tersebut.
Berikut laporan hasil BAKAR SATE yang seru dan benar-benar membuat panas para penulis yang dibedah karyanya. Penulis membagikan fotocopy tulisan mereka kepada pengurus dan anggota yang lain, kemudian penulis mempresentasikan secara singkat mengenai isi cerita dan alasan mengangkat tulisan tersebut. Setelah forum membaca tulisan kemudian satu persatu pengurus dan anggota mulai membedah. Rata-rata kritikan mereka pedas dan kadang membuat penulis mati kutu. Bukan bermaksud menyakiti namun hal ini dimaksudkan agar penulis benar-benar tahu kelebihan dan kekurangan tulisannya. Ada yang mengkritik tentang penulisan tanda baca dan kata sambung yang tidak sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Ada juga yang membahas mengenai deskripsi yang kurang akurat dan pemilihan kata (diksi) yang kurang tepat. Sedangkan yang lain ada yang mengomentari tentang pemilihan tema cerita yang kurang tepat, kemudian mengusulkan tema yang lain untuk diangkat.
Tulisan yang pertama dibedah berjudul Sekuntum Do’a di Taman Tahajud karya Irfan Fauzi. Tulisan ini berisi tentang seorang pemuda yang dipilih teman ayahnya untuk dijadikan menantu, padahal dia mempunyai kakak laki-laki yang belum menikah. Ada konflik batin antara perasaan bahagia karena dia memang cinta dengan putri bapak itu dan perasaan tidak enak dengan sang Kakak. Menurut Sutono, salah satu pengurus FLP tulisan Fauzi,”Membaca tulisan Irfan Fauzi seperti membaca cerpen, karena memakai bahasa kiasan. Untuk kedasyatan do’anya kurang dikupas dalam tulisan ini. Usaha tokoh kurang ditimbulkan. Endingnya terkesan menggantung. Ending seperti ini cocoknya untuk ending cerpen.”
Kemudian Ali Irfan menambahkan,”Kesalahan EYD merupakan hal kecil yang tidak bisa ditolerir. Isi tulisan yang bagus akan menjadi terlihat kacangan saat penulis kurang memperhatikan penggunaan EYD yang tepat. Media cetak dan penerbit pun sangat memperhatikan EYD. Kemudian mengenai bahasa non fiksi adalah bahasa keseharian yang ringan dan sederhana, bahasa keseharian.”
Sedangkan menurut anggota baru yang sedang berikhtiar menerbitkan Novel Pentalogi, Jaki Umam, “Kisahnya mirip seperti kisah hidup saya. Ada kata-kata yang terlalu hiperbola untuk ukuran kisah nyata. Kalimat langsung sebaiknya dibuat paragraph sendiri atau masuk alinea baru. Pelajaran moralnya kurang dipertegas.
Tulisan kedua yang dibedah berjudul Aris Do’a Sang Perantau karya Aris Winarni. Penulis mempresentasikan bahwa dalam kehidupan ini semuanya adalah proses. Agar terkabulnya doa harus melewati beberapa fase. Awin (tokoh utama) lulus SMA hijrah dan dapat hidayah. Saat hidayah itu datang tugas utamanya adalah istiqomah di jalanNya. Merantau ke Pelosok yakni Riau. Mendapat hidayah di Batam, niat yang kuat, serta kesungguhan dalam berikhtiar maka akan menghasilkan keistiqomahan.
Berikut komentar dari Dwi Puspa, pengurus FLP Tegal,”Saya tidak membaca sampai habis kerana panjang sekali. Karena ini kisah nyata maka pakai kata Aku saja, atau kata ganti orang pertama. Setelah mendengar sedikit presentasi dari Mba Aris menurut saya ceritanya memang benar kisah merantau, cuma karena terlalu panjangnya akhirnya menjadi tidak fokus. Mungkin bisa diambil satu saja, misalnya saat di bekerja di Batam atau saat kuliah saja. Alur lebih ditajamkan agar tidak seperti novel.
Sedangkan komentar Ade, anggota FLP Tegal, “Saya banyak menemukan kalimat-kalimat baku dalam menuliskan narasinya, namun setelah membaca halaman setelahnya saya lebih banyak menemukan kata-kata yang seharusnya menjadi dialog cerita dalam sebuah narasi, alias banyak kata-kata yang tidak baku.”
Jaki Umam berkomentar,”Saya mengomentari dari segi kontranegatifnya. Sebenarnya naskah ini berpotensi menjadi Dwilogi, karakter dapat, setting kena, namun alur mesti dikembangkan. Sudut pandang orang pertama pakai kata Aku. Sebaiknya tidak menggunakan kata-kata yang menggurui karena sudah menjadi naluri manusia tidak mau digurui.
Tulisan ketiga karya Rahayu Sekarningrum berjudul Perjalanan Panjang Ibuku. Tulisan ini menceritakan tentang perjalanan hidup ibu si Penulis. Berawal dari kehidupan mereka di Aceh. Kemudian terpaksa pindah ke Jawa karena ada huru-hara GAM dengan TNI. Setelah sampai di Pacitan, tanah kelahiran kedua orang tua Penulis, mereka hidup kekurangan. Klimaksnya saat gaji ayah selama dua bulan belum dibayar, sang Ibu memohon dan menangis saat tahajud karena kebutuhan makan anak mendesak, ditambah adik Penulis sedang sakit. Keesokan harinya langsung mendapat uang.
Komentar Ali Irfan, “Ceritanya keren,tapi sayang prolognya kurang pas.” Dwi Puspa menambahkan,”Ceritanya bagus. Mengingatkan saya saat di Papua dulu. Ketakutan saat ada OPM, waktu pertama kali pindah. Prolognya tidak pas dengan ceritanya. Kurang ada dialognya.
Acara ditutup dengan hamdalah dan rencana BAKAR SATE yang berikutnya.
By : Yustia