Tegal – Forum Lingkar Pena Tegal kembali mengadakan BAKAR SATE #2, Minggu (14/8). Bakar Sate yang dimaksud di sini adalah Bahas Karya Sambil Telaah. Acara yang dihadiri oleh 18 orang ini berlangsung di rumah Ketua FLP Tegal.
“BAKAR SATE” merupakan salah satu program FLP Tegal untuk membuat anggota terlecut membuat sebuah tulisan yang berkualitas. Materi mengenai unsur-unsur instrinsik dan ekstrinsik dalam sebuah tulisan akan mereka dapatkan secara tidak langsung melalui karya yang dibedah.
Teknisnya adalah pengurus FLP Tegal menginstruksikan para anggota untuk membuat tulisan dari bulan Mei hingga akhir Juli. Tema yang diusung mengenai “Kedasyatan Doa”. Ide tulisan merupakan kisah nyata si Penulis ataupun orang lain.
Berikut laporan hasil BAKAR SATE yang seru dan benar-benar membuat panas para penulis yang dibedah karyanya. Penulis membagikan fotocopy tulisan mereka kepada pengurus dan anggota yang lain, kemudian penulis mempresentasikan secara singkat mengenai isi cerita dan alasan mengangkat tulisan tersebut. Setelah forum membaca tulisan kemudian satu persatu pengurus dan anggota mulai membedah. Rata-rata kritikan mereka pedas dan kadang membuat penulis mati kutu. Bukan bermaksud menyakiti namun hal ini dimaksudkan agar penulis benar-benar tahu kelebihan dan kekurangan tulisannya. Ada yang mengkritik tentang penulisan tanda baca dan kata sambung yang tidak sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Ada juga yang membahas mengenai deskripsi yang kurang akurat dan pemilihan kata (diksi) yang kurang tepat. Sedangkan yang lain ada yang mengomentari tentang pemilihan tema cerita yang kurang tepat, kemudian mengusulkan tema yang lain untuk diangkat, ada juga yang mengkritik judul yang biasa-biasa saja. Sedangkan yang lain mengusulkan sebuah judul yang tepat. Total ada 8 naskah yang dibedah dari 10.00 – 15.00 WIB. Antara lain : “Manusia, Rasa Kehilangan dan Harapan” karya Adelard Illhamsyah, “Aku Datang Penuhi Panggilan-Mu” karya Putri Adila, “Allah Tak mengabulkan Doaku” karya N-Dhyra, “Aku Terkejut dan Tak Percaya” karya Khaerul Anam, “Titik Balik” karya Rafihan Anwar, “Bismillah, “Aku Ikut Istikharahku” karya Jaki Umam, “Jejak Kaki Bocah Kecil” karya Irfan Fauzi dan “Perjalanan Panjang Ibuku” karya Rahayu Sekarningrum.
Acara bertambah khitmad karena ada taushiyah dari Ustadz Ghusni Darodjatun, MP.d di tengah-tengah acara yang mengupas Kedasyatan Doa. Ada harapan yang besar pada doa. Hanya orang-orang yang penuh harapanlah yang memanjatkan doa. Jika mereka sudah tidak punya harapan maka bisa jadi tali tambanglah yang akan mereka pilih untuk mengakhiri hidup. Maka berdoalah sesungguhnya Allah sangatlah dekat. Adapun syarat-syarat diterimanya doa adalah berhusnudzon atau berprasangka baik pada Allah, dilakukan berulang-ulang, dilakukan dengan kerendahan hati, di tempat dan waktu yang mustajab.
Setiap orang pasti mempunyai pengalaman spiritual saat berdoa dan memperoleh mukjizat atau jawaban yang tak terduga atas kegigihan berdoa dan tentunya diiringi dengan kesungguhan dalam berikhtiar. Kami ingin melatih anggota untuk menulis kisah nyata entah yang dialami sendiri atau kisah dari orang lain. Sekaligus membagikan kepada pembaca secara luas karena Insyaallah tulisan-tulisan yang lolos seleksi dan layak akan dibukukan”, ujar Ali Irfan, Ketua FLP Tegal saat ditanya mengenai alasan mengambil tema tersebut.(Yustia)

