Jam 2 siang seperti hari sabtu biasanya, saya sudah stanby di Rumah baca Asma Nadia Tegal, bercengkrama dengan anak- anak yang berkunjung ke rumah baca yang terletak di belakang Rumah Dinas Bupati Tegal ini. Mungkin karena cuaca mendung, RBA yang biasanya ruah anak- anak, kini hanya sekitar 12 anak yang datang. Dengan spesipikasi umur 5 sd 13 thn. Baru beberapa menit saya duduk, air jatuh dari langit. Pengalaman yang sudah- sudah, kalau hujan turun sementara tidak ada kegiatan lain selain memilih dan meminjam buku, anak- anak yang aktif akan teriak- teriak, lari- lari dan sebagainya. Mengantisipasi itu, saya atas permintaan seorang anak membuat game dari gambar sederhana yang bisa melibatkan banyak anak. Itupun saya agak kesusahan memberi soal karena jenjang usia,dan kelas amat beragam. Ada Sultan, Sakinah yang masih kelas 2 sd, ada juga Revina yang sudah kelas 1 smp. Sementara Via dan Oval yang masih 5 thn mengacak- acak puzle dan dakon. Untungnya beberapa waktu kemudian, ketua RBA Tegal datang. Sehingga, anak- anak yang tidak ikut game menghambur ke Eka.
Jam setengah 4 sore, hujan agak mereda. Kalau biasanya anak- anak bertahan hingga menjelang RBA ditutup, seolah tahu kalau setengah jam ke depan ruangan RBA akan ada pertemuan rutin Flp Tegal dengan mas Ali Muakhir yang kebetulan sedang ada di tanah kelahirannya, kota Poci.
Langit masih hitam, pekat. Hujan yang baru saja mereda, menderas kembali. Tiba- tiba sms dari mas Ali Muakhir masuk. Isinya ” mas, jadi acaranya? ” saya berpikir sebentar, bingung bagaimana harus membalas sms tsb. Sepengetahuan saya, yang konfirmasi kehadiran banyak, tetapi karena cuaca gelap, 15 menit menjelang acara baru ada saya dan Eka. Akhirnya saya jawab sms beliau ” Insyaallah jadi, mudah- mudahan jam 4 hujan reda.” saya sedikit lega setelah menjawab demikian, begitu menurut Yustia, ada temen- temen dari Flp Pemalang yang akan datang dan sudah berada di Banjaran, Adiwerna.
Tepat jam setengah 5, teman- teman Flp Tegal datang, disusul kehadiran mas Ali Muakhir yang dikuntiti anak- anaknya, minus Nada. Tanpa banyak kata, acara curhat kepenulisan dengan Mas Ali pun dimulai. Banyak ilmu yang saya dapat di sore menjelang pergantian tahun. Diantaranya sebagai berikut
Endorsmen artinya, kalimat singkat yang mengomentari isi, manfaat dan apreasi buku.
Endorsmen sebenarnya, di cari ketika naskah sudah jadi dan siap terbit.
Cara pengiriman buku anak ke penerbit, yang berupa kumpulan cerpen adalah: 12 judul, maksimal 6 halaman dengan 1,5 spasi dan kertas hvs.
Seyognya, sebelum menulis buku lebih dahulu mencoba menaklukan rimba media masa karena akan melatih calon penulis menjadi, sabar, produktif dan bisa membuat deadline sendiri.
Trik menerbitkan buku, tema jelas, punya nama ( efek sering terbit di media mungkin ), bikin serial. dan prosedur pengiriman naskah, untuk soft copy gunakan PDF. Naskah dibuat secantik mungkin kalau dikirim secara manual.
Menjelang Adzan maghrib, acara ditutup. Terimakasih buat mas Ali Muakhir yang bersedia datang dan berbagi ilmu, teman- teman Flp dan RBA Tegal. Mengutip kata GK Chestern, ” obyek peringatan tahun baru, bukanlah soal kita akan memasuki tahun baru, tetapi bagaimana kiti memiliki semangat baru. SEMOGA. (Sutono Suto)
